Kartinian without Konde & Kebaya..
Semoga Perempuan Indonesia tidak hanya merayakan Hari Kartini dengan konde dan kebaya ketat berwarna-warni, bertahun-tahun simbol itu melekat, itu yang saya tahu tentang Hari Kartini di waktu kecil karena sekolah mengadakan ikut lomba kartinian dan setelahnya dapat piala kuning besar untuk di pajang he he tapi biasanya saya tidak ikut, bukan tidak nasionalis tapi nggak ada uang untuk sewa baju he he he…
Menurut saya konde dan kebaya adalah simbol “perempuan rumahan” yang mengurus anak, suami..ya urusan domestiklah.. ada yang mengatakan bahwa perempuan salah mengartikan kesetaraan gender..mengejar karir setinggi langit, melupakan kodratnya sebagai perempuan..saya rasa itu tidak benar juga.Ketika Kartini memberontak tradisi yang mengikatnya itu adalah sebuah revolusi kebudayaan (menurut saya loh), Menurut Kartini perempuan haruslah memiliki pilihan yang bebas, tidak terbelenggu struktur sosial ataupun budaya. Jika pilihan menjadi ‘orang rumahan’ itu semata-mata karena opsi yang merdeka, lakukanlah dengan penuh cinta dan keikhlasan, TAPI ketika perempuan memilih opsi tampil di ruang publik tidak ada salahnya dunk?? Bukan berarti perempuan mencari kesetaraan dengan laki-laki akan tetapi karena perempuan juga sama seperti laki-laki..sama-sama manusia…jadi mempunyai otak untuk berpikir, mempunyai keinginan untuk maju dan berkembang..menurut saya itu manusiawi saja jika manusia ingin maju dan berkembang..apakah salah kalau itu di lakukan perempuan? Kalau salah di mana letak kesalahannya?..apa karena tidak lagi menunggu suami pulang, mengurus anak dan rumah lalu di anggap melupakan kodrat? Kalau begitu perempuan hanya jadi “pelayan” untuk suami dan anak dunk?he he he he. Bukankah anak itu tanggung jawab bersama, bukan hanya istri semata-mata dunk..bukankah dalam membuat anak juga di perlukan kerjasama? He he he so harus berbagi dunk…menurut saya mencari nafkah tidak hanya tanggung jawab suami dan mengurus anak dan rumah bukan hanya tanggung jawab istri, semuanya harus di bagi dunk..banyak sekali perempuan yang mengerjakan semuanya mengurus suami, anak dan rumah tapi harus lagi bekerja untuk membantu mencari nafkah untuk membantu perekonomian keluarga dan itu TIDAK HANYA dilakukan perempuan kota yang berpendidikan tetapi juga perempuan desa yang tidak punya pendidikan sama sekali, apalagi bicara “kesetaraan gender, Feminis lah” yang mereka tahu bahwa melakukan semuanya karena cinta kepada keluarga mereka, sehingga bersama-sama membangun sebuah keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang, tidak lagi mencari kesetaraan gender..percuma saja bicara kesetaran gender tapi tanggung jawab tidak mau berbagi dengan suami dan semua fasilitas minta suami karena beranggapan itu tanggung jawab suami…atau mencari pembenaran bahwa perempuan mahkluk lemah dan harus di lindungi ..capee dech.. siapa bilang perempuan itu lemah?? Perempuan itu mahkluk yang kuat..mungkin lebih kuat dari laki-laki (mungkin loh) saya pernah membaca di harian kompas, kira-kira bulan agustus 2008 (maaf saya lupa tanggalnya), di dalam berita tertulis bahwa seorang perempuan melahirkankan seorang anak dan beberapa jam setelah itu ia harus bekerja berjualan untuk menghidupi anak-anaknya yang lain?? Wach wach kalo saya belum tentu sanggup!! ( gimana tahu ya punya anak aja belum he he ) yang jelas saya sangat salut dan bangga kepada perempuan-perempuan yang mau berjuang… salut saya juga kepada TKW ( gak nyambung ya? Cuek aja he he )Indonesia yang bekerja di luar negeri untuk menafkahi keluarga mereka ( maklum saya jadi TKW juga dulu he he jadi senasib kalee he he he) apakah mereka bicara “kesetaraan” saya rasa tidak…mereka ke ruang publik..bekerja dengan ikhlas untuk keluarga mereka. Ribuan mil mereka meninggalkan anak- anak mereka, keluarga mereka, apakah itu melupakan kodrat??tidak lagi mengurus suami dan anak2??yang mereka tau bahwa mereka mau memperbaiki nasib keluarga mereka.
So hidup itu adalah pilihan…yang memilih menjadi “orang rumahan” ya monggo jika itu adalah pilihan sendiri yang merdeka tapi jika ada yang memilih ruang publik untuk bekerja tidak ada salahnya, setiap manusia mempunya hak untuk menentukan hidupnya.. dan perempuan adalah manusia jadi perempuan bebas menentukan pilihan. Menurut saya bahwa perempuan harus lebih yakin terhadap kemampuan dirinya dan menyadari meskipun hidup di dalam dunia yang didefinisikan laki-laki, nasib perempuan ada di tangan perempuan sendiri..so untuk kaumku Selamat Hari Kartini..












